Kemenpar Luncurkan Revolusi Wisata Gastronomi Nasional 2025
Pada 22 September 2025, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI mulai mengarahkan pengembangan pariwisata Indonesia ke arah yang lebih tematik dan berbasis kekuatan lokal. Salah satu fokus yang semakin menjadi sorotan adalah wisata gastronomi, sebuah konsep yang menggabungkan pengalaman kuliner dengan kekayaan budaya lokal. Tidak hanya menjual rasa, wisata ini juga menyajikan cerita, sejarah, dan filosofi di balik setiap hidangan. Kemenparekraf bahkan mendorong dibukanya lebih banyak jalur wisata gastronomi di berbagai daerah melalui program Wonderful Indonesia Gourmet. Tujuannya jelas, yakni untuk memanfaatkan keanekaragaman kuliner Indonesia sebagai daya tarik wisata yang unik dan autentik. Mulai dari rendang di Sumatera Barat, gudeg di Yogyakarta, hingga papeda di Papua, semuanya bisa menjadi ikon wisata yang tak terlupakan. Kalau kamu tertarik dengan dunia pariwisata atau kuliner, konsep wisata gastronomi ini bukan cuma menggoda dari sisi rasa, tetapi juga menjanjikan secara ekonomi. Yuk, kita bahas lebih dalam tentang apa itu wisata gastronomi, bagaimana mengembangkannya, dan peran penting media sosial dalam menyukseskannya. Apa Itu Wisata Gastronomi? Wisata gastronomi adalah bentuk perjalanan wisata yang bertujuan untuk mengeksplorasi, menikmati, dan memahami kekayaan kuliner suatu daerah. Tetapi lebih dari sekadar makan-makan, wisata ini juga melibatkan aspek budaya, sejarah, hingga filosofi dari setiap makanan yang disajikan. Dalam wisata gastronomi, makanan bukan hanya menjadi objek konsumsi, tetapi juga jendela untuk mengenal identitas suatu daerah. Misalnya, saat kamu menyantap soto Banjar, kamu tidak hanya mencicipi kuah hangat dan daging ayam, tapi juga menyelami budaya Banjar, teknik memasak tradisional, serta bahan-bahan lokal dari soto Banjar. Hal ini menjadikan wisata gastronomi sebagai bentuk pariwisata yang sangat berdaya saing tinggi di era sekarang. Terlebih, Indonesia memiliki ribuan jenis makanan khas yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, sebuah kekayaan yang belum dimaksimalkan sepenuhnya. Baca Juga: Liburan di Solo: Nikmati Pesona Budaya, Alam, dan Kuliner Autentik Jawa Mengapa Wisata Gastronomi Semakin Jadi Perhatian? Ada banyak alasan mengapa wisata gastronomi menjadi perhatian serius, baik oleh pemerintah maupun pelaku industri pariwisata. Pertama, tren global menunjukkan bahwa wisatawan modern cenderung mencari pengalaman otentik saat bepergian. Mereka ingin mencicipi makanan lokal, memasak bersama warga setempat, bahkan mengikuti kelas memasak tradisional sebagai bagian dari aktivitas wisata. Kedua, sektor kuliner terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB ekonomi kreatif Indonesia. Data dari Kemenparekraf yang terkumpul dari platform Agoda periode Juni-Juli 2025 menunjukkan bahwa Indonesia masuk ke lima besar tujuan wisatawan untuk menggali pengalaman terkait kuliner. Artinya, mengembangkan wisata berbasis kuliner berarti memperkuat fondasi ekonomi lokal. Ketiga, wisata gastronomi mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan. Ketika suatu destinasi menawarkan pengalaman makan yang beragam dan menarik, wisatawan akan cenderung tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang. Ini berdampak langsung pada perputaran ekonomi di tingkat lokal. Dan keempat, wisata gastronomi mendorong pelestarian budaya. Banyak kuliner tradisional yang terancam punah karena kalah saing dengan makanan cepat saji. Dengan menjadikan makanan tersebut sebagai daya tarik wisata, masyarakat lokal akan lebih termotivasi untuk melestarikannya. Bagaimana Cara Mengembangkan Wisata Gastronomi? Untuk mengembangkan wisata gastronomi, tidak cukup hanya dengan menonjolkan makanan enak. Ini membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, strategis, dan berbasis komunitas. Berikut beberapa langkah penting untuk mengembangkan wisata gastronomi: 1. Pemetaan Potensi Kuliner Lokal Setiap daerah memiliki makanan khas yang unik. Langkah pertama adalah melakukan pemetaan hidangan mana yang paling ikonik, memiliki cerita menarik, dan bisa menjadi daya tarik wisata. Pemetaan ini sebaiknya melibatkan tokoh masyarakat, budayawan, dan pelaku kuliner lokal. 2. Pengemasan Cerita Gastronomi Makanan dengan cerita akan lebih mudah masyarakat terima. Oleh karena itu, pengelola destinasi perlu mengemas informasi mengenai asal-usul, filosofi, dan nilai budaya dari suatu hidangan. Ini bisa ditampilkan dalam bentuk buku menu, papan informasi, atau media digital interaktif. 3. Pelatihan Bagi Pelaku Kuliner Koki lokal, ibu-ibu rumah tangga, dan pelaku UMKM perlu pembekalan seperti pelatihan hospitality, penyajian modern, dan manajemen usaha. Hal ini akan meningkatkan daya saing mereka tanpa menghilangkan keaslian rasa. 4. Integrasi dengan Produk Wisata Lain Wisata gastronomi akan lebih kuat jika dikombinasikan dengan atraksi lain, seperti wisata budaya, pertanian, atau ekowisata. Misalnya, wisatawan bisa diajak mengunjungi pasar tradisional, ikut panen bahan makanan, lalu belajar memasak di rumah warga. 5. Kolaborasi dengan Pemerintah dan Swasta Pengembangan wisata gastronomi perlu dukungan lintas sektor. Pemerintah daerah bisa menyediakan regulasi dan insentif, sementara sektor swasta bisa mendukung dari sisi pemasaran, sponsorship, dan pengembangan teknologi. Jika langkah-langkah ini dijalankan dengan baik, maka wisata gastronomi akan menjadi kekuatan pariwisata Indonesia yang tidak hanya lezat, tetapi juga berdampak besar bagi ekonomi dan budaya lokal. Baca Juga: Trik Jitu Promosikan Paket Wisata untuk Menarik Ribuan Wisatawan! Hidangan Nusantara yang Menjadi Ikon Gastronomi Indonesia memiliki ratusan bahkan ribuan jenis hidangan tradisional yang berpotensi menjadi ikon wisata gastronomi. Berikut beberapa contoh makanan khas yang sudah terkenal luas sebagai ikon gastronomi Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri: 1. Rendang – Sumatera Barat Dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia oleh CNN, rendang adalah simbol kekayaan rempah-rempah dan teknik memasak yang rumit. Cerita di balik rendang sebagai makanan upacara adat membuatnya sangat menarik untuk dikemas dalam wisata gastronomi. 2. Gudeg – Yogyakarta Makanan manis khas Jogja ini memiliki filosofi kesabaran dan kelembutan, mencerminkan karakter masyarakat setempat. Disajikan di rumah makan tradisional hingga restoran modern, gudeg bisa menjadi pusat tur kuliner kota budaya ini. 3. Papeda – Papua Makanan berbahan dasar sagu ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Papua. Pengalaman menyantap papeda dengan kuah ikan kuning menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal kuliner timur Indonesia. 4. Ayam Taliwang – Lombok Pedas, gurih, dan penuh rasa. Ayam Taliwang menjadi makanan wajib bagi wisatawan yang datang ke Lombok. Proses pembuatannya yang tradisional bisa dikembangkan dalam bentuk cooking class wisata. 5. Soto – Hampir di Semua Daerah Menariknya, soto memiliki banyak versi di tiap daerah seperti Soto Lamongan, Soto Betawi, Soto Kudus, hingga Soto Medan. Ini bisa dijadikan jalur wisata tersendiri, seperti “Wisata Soto Nusantara.” Baca Juga: Liburan Sambil Belajar di 7 Destinasi Wisata Edukasi Jogja Media Sosial sebagai Pendukung Utama Pengembangan Wisata Gastronomi Di era digital, media sosial memainkan peran krusial dalam pengembangan wisata gastronomi. Makanan yang menarik secara visual sangat mudah viral di platform seperti Instagram, TikTok, hingga YouTube. Ini menjadi peluang besar bagi daerah untuk mempromosikan kuliner lokal ke audiens yang lebih luas,









